TUY6TSY9Gpr9TfC5GfY7TfW6TY==

Tesla Manaf, Gitaris Jazz Asal Bandung Yang Mendunia

Tesla Manaf Gitaris Bandung Yang Mendunia
Doc. waspada.coid
Tesla Manaf dikenal sebagai salah satu gitaris bandung yang patut di acungin jempol saat ini. Banyak prestasi dan karya-karya luar biasa yang terlahir dari tangan lelaki berusia 27 tahun ini. walaupun terlahir dan besar bukan dari keluarga musisi, namun pengaruh bermusiknya justru ia dapatkan dari sang ayah yang gemar mengoleksi musik ber-genre rock progresif tahun 1960-1970-an, seperti Mahavisnu Orchestra, Gentle Giant, Emerson Lake & Palmer (ELP),  dan Soft Machine.

Pada awalnya ia tidak begitu menikmati musik-musik tersebut, tapi seiring berjalannya waktu, ketertarikan Tesla mulai tumbuh. Ia kerap kali mencuri-curi dengar lagu tersebut ketika ayahnya tidak di rumah. Berawal dari ketertarikan tersebut, Tesla mulai memelajari musik pada usia sembilan tahun. Ia memilih belajar gitar klasik di sebuah lembaga pelatihan musik asal Jepang selama sepuluh tahun. Alasannya memilih gitar karena ia sering melihat abangnya memainkan alat musik tersebut.

Belajar musik, khususnya gitar klasik, membawa kekhusyukan tersendiri bagi Tesla. Ia bahkan rela menghabiskan waktu luangnya untuk terus berlatih dan berlatih. Terkadang saking khusyuknya, setiap hari ia bisa menghabiskan sembilan jam latihan sampai meninggalkan tugasnya sebagai pelajar. Ini tentu saja bukan tanpa sebab. Dalam musik klasik dibutuhkan kesempurnaan teknik dan interpretasi dalam memainkan sebuah karya atau lagu.

Walaupun demikian, bukan berarti dia masuk dalam jajaran siswa yang bermasalah dalam hal akademik. Tesla yang menggemari sejarah dan bahasa Inggris ini malah masuk dalam kelas inti. Keseriusannya dalam berlatih gitar juga berbuah manis. Ia berhasil mendapatkan penghargaan lomba musik tingkat nasional.

Guna menuntut ilmu yang lebih tinggi, Tesla berkuliah pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat itulah, ia bergabung dengan sebuah komunitas musik bernama Kelab Klasik yang kerap berkumpul di Toko Buku Kecil.

Dari seorang teman di kelab inilah ia mulai bersentuhan dengan warna musik baru selain klasik. Tesla juga direkomendasikan oleh temannya untuk belajar di Venche Music School, sebuah sekolah musik di Bandung asuhan Venche Manuhutu, seorang musisi jazz. Rasa kaget dan panasaran muncul ketika dirinya memelajari jazz. “Beda banget lah sama musik klasik, di sini saya dituntut untuk lebih mikir dan berimprovisasi,” ujar Tesla. Hal tersebut mendorongnya untuk belajar lebih giat.

Perjalanan bermusik Tesla bukan hanya dilalui dengan belajar saja, ia juga mengonversikan kemampuannya dalam bentuk komposisi nada-nada harmonis. Dalam melakukan hal tersebut, dia harus mendapatkan beberapa stimulan, antara lain ‘patah hati’. Mungkin bukan patah hati dalam arti sesungguhnya, tapi lebih kepada rasa kekecewaan dirinya terhadap suatu peristiwa yang menimpanya.

Selain menciptakan lagu-lagu sendiri, ia pun merekam komposisi-komposisi yang ia gubah dalam sebuah rekaman yang ia produseri sendiri. Dia juga turut berkolaborasi bersama beberapa rekan. Hasil produksinya diterbitkan melalui jalur indie. Salah satu contohnya adalah album kolaborasinya bersama Grace Sahertian yang bertajuk GraceTesla (2010). Album ini sold out dan masuk review WartaJazz, sebuah media online yang khusus memuat berita-berita yang berkenaan dengan jazz.
Seiring berjalannnya waktu, Tesla merasa bahwa jazz tidak lagi dapat mengakomodir ekspresinya dalam bermusik. Ia mencoba untuk berpindah genre ke world music (meliputi berbagai gaya musik yang berbeda dari seluruh budaya di dunia, red). Pada tahun 2011, ia pun kembali menelurkan album kolaborasi dengan Mahagotra Ganesha, It’s All Yours.

Pada tahun yang sama ia juga meluncurkan album berjudul Dig This, kolaborasi dengan Ivan yang merupakan seorang pianis. Dan pada tahun 2014 ia juga merilis ulang album It’ s All Yours. Uniknya, hampir semua album yang pernah ia buat direkam dengan perekam portable yang bisa dibawa kemana-mana.

Album kelima Tesla, A Man’s Relationship With His Fragile Area (2014), tidak diproduksi secara indie tapi dibawah naungan sebuah label bernama MoonJune Records yang bermarkas di New York City. Label ini menaungi beberapa musisi Indonesia seperti Dewa Budjana dan Tohpati. Pada album ini, terasa sekali aroma eksperimental dari Tesla.

Dia mencoba mengeksplorasikan nada, harmoni, vokal, dan bunyi dalam suatu komposisi nan dinamis  serta menghasilkan banyak kejutan-kejutan yang memunculkan ‘drama-drama’ di tiap gubahannya. Namun untuk kita yang tinggal di Indonesia, nampaknya harus sedikit bersabar karena album ini untuk sementara belum dijual di dalam negeri.
Selain itu, Tesla juga kerap mendapatkan undangan live perforemonce. NgayogJazz yang diselenggarakan pada tahun 2011 adalah salah satu event yang sangat berkesan baginya. Ia bisa merasakan emosi dan atmosfer yang begitu dahsyat yang diberikan oleh para penonton.

Seperti sebuah quote yang menyebut: “Music gives soul to the universe, wings to the minds, flight to the imagination, and life to everything.” Musik bagi Tesla adalah segalanya. Musiklah yang selama ini mengantarkan kakinya melangkah sampai dengan saat ini dan di kemudian hari.


Type above and press Enter to search.