Apa Itu Fanned Fret Guitar, Multiscale Gitar Atau Fret Gitar Miring

 

Zonagitar.Net,- Pernahkah melihat gitar atau bass dengan bentuk fret yang miring-miring? yah itu adalah  fanned Fret, atau multiscale fret gitar.

Apa Itu Fanned Fret Guitar atau Multiscale Gitar?


Multiscale atau fanned fret gitar adalah konsep di mana setiap string-nya mempunyai panjang scale yang berbeda satu sama lain. Untuk belum tahu, scale pada gitar adalah jarak antara nut gitar dan bridge. Di multiscale atau fanned fret, kita akan mempunyai scale yang lebih panjang setiap senar yang lebih rendah.

Banyak yang berpendapat jika fitur multiscale ini memiliki playability dan tone yang lebih baik ketimbang gitar dengan fretboard konvensional.

Konsep multiscale instrument sebenernya sudah umum digunakan pada banyak instrumen musik lainnya, sepert piano, harpa, dll. Saat konsep ini diterapkan pada instrumen yang menggunakan fret (seperti gitar), akan terjadi beberapa perubahan bentuk, yang sekarang lebih banyak dikenal sebagai Fan Fret.

Menurut  berbagai sumber, konsep multiscale ini pertama muncul sekitar abad 16 pada alat musik bernama Orpharion dan Bandora. Baru akhirnya pada tahun 1900-an konsep multiscale ini diterapkan pada gitar modern.

Pada umumnya, scale yang digunakan oleh gitar-gitar umumnya antara 25.5 inch, meskipun ada juga yang menggunakan scale yang lebih pendek atau lebih panjang. Apa bedanya? Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: apa benefit dari menggunakan scale panjang/ pendek pada gitar?
Berikut akan kita bahas beberapa pro dan kontra, baik itu menggunakan scale yang pendek atau pun panjang.

1. Scale yang lebih pendek
Pro:
-String tension lebih berkurang
-Lebih mudah di-bending
-High string bersuara lebih smooth
-Jari akan lebih mudah untuk melakukan posisi-posisi yang memerlukan stretch
Kontra:
-Akan membutuhkan senar yang lebih tebal jika ingin down tuning
-Terkadang frekuensi low-end terdengar muddy atau tidak jelas
-Sering memerlukan setting intonasi saat down tunning

2. Scale yang lebih panjang
Pro:
-Low string akan bersuara lebih clear dan tight
-Intonasi yang lebih baik pada low string
-Karena tensi senarnya bertambah, maka user bisa menggunakan senar yang lebih kecil
-Saat bermain di fret-fret tinggi akan lebih banyak ruang (karena jarak antar fretnya cenderung lebih lebar)
Kontra:
-String tension akan lebih berat
-Lebih sulit untuk bending
-High string bisa bersuara terlalu bright
-Akan lebih sulit melakukan hand stretching
Beberapa poin di atas adalah pro dan kontra menggunakannya, baik itu gitar dengan scale pendek ataupun panjang. Bagaimana dengan multiscale? Teman-teman pasti sudah menebak jika multiscale menggabungkan benefit dari kedua scale tersebut. Yup, it does. Berikut adalah beberapa uraiannya:
Multiscale Fret
Pro:
-String tension pada senar tinggi akan lebih kecil sehingga lebih mudah untuk bending
-Karena scale pada senar rendah lebih panjang, maka string tension-nya juga akan lebih besar sehingga kita tetap bisa menggunakan senar yang lebih kecil
-Karena scale di senar tinggi lebih pendek, maka otomatis akan bersuara lebih smooth
-Pada lower string-nya juga akan mempunyai intonasi yang lebih baik, dan juga bersuara lebih tight dan jelas

Meskipun terlihat menjawab semua problem yang ada di kedua jenis scale, tetapi multiscale ini tetap memiliki beberapa kekurangan, yaitu:
  • -Beberapa bentuk chord akan lebih sulit dimainkan
  • -Akan perlu penyesuaian dalam memainkannya
  • -Opsi yang terbatas, karena belum banyak pabrikan gitar yang memakai konsep ini, otomatis kita akan lebih sulit untuk mencari varian produk, spare part dan tempat servis-nya

Meski pada awalnya gitar jenis ini sulit untuk didapatkan, tapi seiring waktu, saat ini sudah banyak pabrikan yang mengeluarkan produk gitar yang menggunakan multiscale, seperti Kiesel, Strandberg, Axe Factory, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Multiscale ini bisa dibilang salah satu terobosan yang akan banyak kita jumpai di gitar-gitar modern nantinya, karena semakin banyaknya gitaris yang ingin mengeksplor sound dan permainannya, salah satunya adalah menambah jumlah senar. Dan untuk mengatasi masalah yang muncul pada senar yang semakin banyak (intonasi dan clarity), multiscale fret merupakan salah satu solusinya.

Salah satu gitaris yang identik dengan multiscale fret adalah Tosin Abasi (Animal As Leaders), atau ada juga gitaris dari Indonesia yang sering menggunakan multiscale fret, salah satunya adalah Balawan.

Luthier yang pertama kali memperkenalkan fan fret atau multiscale adalah Ralph Novak. Ia bahkan sempat mematekan fan fret tahun 1989. Ia membuat beragam instrumen dengan teknologi fan fret, mulai dari gitar, bass hingga gitar akustik.
Beberapa Pembuat Gitar/Bass Fan Fret
Sudah banyak pembuat gitar yang menerapkan fan fret. Ibanez, ESP, Schecter, Kiesel, Strandberg, dan Dingwall adalah beberapa pembuat fan fret yang populer saat ini. Penggunaan fan fret juga sudah cukup populer saat ini sehingga pembuat gitar custom juga menawarkan fan fret sebagai salah satu option. 
Perbedaan Fan Fret Dengan Fret Lurus
Menurut beberapa musisi yang sudah mencoba fan fret, menurut mereka tidak ada perbedaan yang berarti antara fan fret dengan fret lurus. Tapi tentu Anda harus mencoba sendiri untuk mengetahui perbedaannya. Musisi yang terkenal dengan instrumen fan fretnya antara lain adalah Charlie Hunter, Lee Sklar, Adam “Nolly” Getgood, dan Andy McKee.
Kesimpulan
Fan fret adalah teknologi abad ke 16 yang kini kembali populer. Fan fret menawarkan pilihan baru untuk musisi modern yang mencari instrumen dengan karakter yang berbeda. Meskipun identik dengan gitar modern, namun fan fret adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan dari jaman dulu masih berguna dan relevan hingga saat ini. Soal fan fret cocok atau tidak untuk Anda, maka Anda harus mencobanya sendiri. 

Tidak ada komentar

Featured Posts

{getFeatured} $label={Headlines}$color={#EA2027}