Demi Jadi Gitaris, Dewa Budjana Rela Tidak Kuliah - ZonaGitar.NET | Majalah Gitar Online Indonesia

Mobile Menu

More News

logoblog

Demi Jadi Gitaris, Dewa Budjana Rela Tidak Kuliah

Mei 18, 2021

 

Zonagitar.Net,- Kecintaan Dewa Budjana pada gitar melebihi segalanya. Dewa Budjana rela tidak kuliah demi cita-citanya sebagai gitaris.

Dari Surabaya gitaris I Dewa Gede Budjana hijrah ke Jakarta. Pria kelahiran, Waikabubak, 30 Agustus 1963 ini sempat bergabung dengan Indra Lesmana Grup. Juga sebagai gitaris di Jimmy Manoppo Big Band, Orkes Telerama, Elfa’s, Twilite Orchestra, Erwin Gutawa Orchestra dan lain-lain.

Pada 1992 Dewa Budjana menyampaikan keinginannya untuk membentuk grup band dengan dua pemain gitar. Keinginannya tersebut terwujud dua tahun kemudian, yaitu pada 1994. Dia membentuk band dengan formasi dua gitaris, berpasangan dengan Baron. Band itulah yang kini dikenal dengan nama Gigi.

Grup Band Gigi resmi dibentuk pada tanggal 22 Maret 1994. Pada awalnya grup band ini terdiri atas Arman Maulana (vokalis), Thomas ramadhan (bassis), Dewa Budjana (gitaris), Ronald Fristianto (drummer)"EVO Band" , dan Baron Arafat "Baron Soulmate" (gitaris). Pengidola musisi Keith Jarret ini pernah menggelar konser tunggal di Gedung Kesenian Jakarta yang dibarengi peluncuran buku Gitarku, Hidupku, Kekasihku.

Ia menceritakan, sejak dari SMP memilih gitar untuk jalan hidup. Makanya saya hanya sekolah sampai SMA , tidak kuliah.

" itu kesalahan saya juga. Sejak awal saya serius bermain musik secara autodidak. Tahun-tahun itu orang masih belum yakin bisa hidup dari musik. Namun saya merasa tidak akan mengalami kesulitan apa-apa dan nyatanya aman-aman saja,"katanya saat diwawancara beberapa waktu lalu.

Ia bisa dibilang memberontak terhadap kemapanan. Namun sebenarnya tidak ada kendala karena orang tua mendukung.

"Orang tua saya seorang hakim, kakak-kakak saya kuliah. Ayah saya mendukung kegiatan saya dan tidak melarang. Ayah saya mengatakan jika suka musik harus dijalani dengan serius,"ucapnya.

Ia memiliki koleksi gitar, rata-rata dibeli sendiri ketika tur ke luar negeri, jumlahnya sekitar 40 buah.

Anda gitaris jazz atau pop?"Saya tidak tahu. Pemusik pop bilang saya pemain jazz. Tapi pemain jazz tidak anggap saya pemain jazz. Bagi saya yang penting main gitar saja,"ucapnya.

Apa filosofi Anda main gitar?"Belajar tidak ada batasan usia sampai kapan pun dengan yang muda harus juga belajar,"tandasnya.

Meski sebagai musisi terkenal, ia sama sekali tidak glamour, biasa saja. "Dulu saya senang musik eksperimental bukan pop. Mungkin orang menganggap glamour sekarang saja,"tukasnya.

Ia memilih musik jazz karena awalnya pengaruh tren musik saat pertama kali mulai menggeluti musik.

"Di akhir tahun 70-an saat Saya masih SMP di Surabaya, yang sedang tren adalah musik jazz rock atau jazz kontemporer. Banyak kaset-kaset yang beredar dengan label atau judul “Contemporary Jazz”, “Jazz Vocal”dan sebagainya. Musisinya seperti Al Dimeola, John Mc. Laughlin ataupun grup-grup seperti Weather Report, Return to Forever, dan lain-lain,"paparnya.

Ia lantas membentuk grup band Squirrel di Surabaya. Akhirnya orang lebih mengenal saya sebagai pemain musik jazz.

Padahal ia dan teman-teman di Squirell sebenarnya tidak ada yang menguasai musik jazz secara yang sebenarnya. Waktu itu mereka cuma kebawa tren saja, ternyata cuma kenal kulit luar musik jazz.

Ia baru sadar manfaat belajar jazz standar. Maka ia lantas belajar pada almarhum Jack Lesmana.Setelah merasa cukup punya bekal ilmu, tahun 1986 sampai 1993 ia mulai berkiprah dari pub ke pub sebagai session player memainkan top 40 dan musik-musik lain konsumsi dunia hiburan malam. Selain itu juga main di klub-klub jazz.

1 komentar
Hide comments

1 komentar:

  1. Itu pasti sebuah keputusan yang sulit, tapi kalau melihat hasilnya sekarang, rasanya itu sudah terbayarkan.

    BalasHapus